Review Film Galih Ratna

23.14 Mahriansyah 0 Comments




Sebelum Rangga dan Cinta (Ada Apa Dengan Cinta? 2002) yang hingga kini masih dianggap sebagai ikon sepasang kekasih remaja era millennial, sekitar 38 tahun lalu sudah ada Galih dan Ratna (diperankan Rano Karno dan Yessi Gusman), yang sukses mengharu biru kaum muda pada masanya dalam Gita Cinta Dari SMA (1979), buah karya Arizal dan diangkat dari novel populer tulisan Eddy  D. Iskandar. Saking populernya, film pernah diadaptasi menjadi serial televisi juga drama musikal. Kini, di dekade kedua era 2000-an, hadir pula ulang buatnya, Galih & Ratna. 

Judul bukan satu-satunya perombakan dalam Gita Cinta Dari SMA, karena bagaimanapun plot melodramatis versi aslinya yang berkisah tentang hubungan cinta tersandung aral perbedaan suku secara sosiologis tentunya sudah tidak terlalu kontekstual. Oleh karenanya, naskah tulisan Fathan Todjon bersama sang sutradara, Lucky Kuswandi, mencoba untuk memotret karakter remaja masa kini yang bergulat dengan eksistensialisme.

Galih (Refal Hady, serial Drama Queen, Critical Eleven) adalah siswa sebuah SMA di kota Bogor dengan prestasi akademis membanggakan. Sedang Ratna (Sheryl Sheinafia, Marmut Merah Jambu, Koala Kumal) adalah seorang siswi baru pindahan Jakarta untuk menetap bersama tantenya (Marissa Anita, Selamat Pagi, Malam, Istirahatlah Kata-Kata).

Singkat cerita, Galih dan Ratna saling jatuh suka dan menjalin hubungan kasih. Ratna kemudian mencoba untuk membantu Galih dalam mempertahankan toko musik/kaset warisan almarhum ayahnya. Pemilihan kaset sebagai leitmotif cerita cukup cerdik, karena di era digital serba instan ini, kaset seolah menjadi perwakilan akan pergulatan melawan kemapanan sekaligus simbol akan keuletan serta dedikasi. Siapa saja yang dulu sering melalui kerepotan merekam manual untuk membuat sebuah mixtape pasti tahu tentang itu.

Idealisme Galih sayangnya berbenturan dengan keinginan sang ibu (Ayu Dyah Pasha, Mengejar Matahari, Surat Cinta Untuk Kartini) yang ingin sang anak lebih mementingkan studi agar tingkat ekonomi mereka membaik nantinya. Sedang Ratna, yang berasal dari keluarga berada, harus membuktikan pada sang ayah, Hengky Tornando (Saur Sepuh, Mengaku Rasul) jika musik adalah pilihan yang akan ditekuninya.

Selain sebagai kekuatan, kaset sebagai leitmotif cerita sebenarnya juga menjadi salah satu elemen kelemahan Galih & Ratna, karena membuat film terasa naif kalau tidak mau disebut konyol. Yah, Galih patut dipuji karena konsisten dengan idealismenya. Namun, sebagai siwa cerdas seharusnya ia lebih tahu jika saat ini kaset adalah  sebuah niche market. Pastinya tidak akan memiliki masa depan cerah jika tanpa dibarengi infrastruktur bisnis memadai. Sedang motivasi Ratna untuk menggeluti dunia musik pun tidak memiliki latar lebih meyakinkan.

Oleh karenanya, Galih & Ratna tidak memiliki bangunan konflik kuat, meski sebenarnya memiliki potensi untuk itu. Ada beberapa bagian di mana film ingin membenturkan dirinya dengan realita secara keras. Sayang, saat hendak meledakkan friksinya, ia kembali melunak.

Apalagi – terlepas dari Hady maupun Sheinafia berakting dengan cukup baik – karakterisasi Galih dan Ratna cenderung datar dan minim nuansa, sehingga tidak memiliki impresi yang kuat pula. Pada akhirnya kita tidak memiliki keterikatan emosional secara lekat kepada mereka. Tidak heran jika kemudian belitan hubungan Galih dan Ratna, yang seharusnya mengaduk-aduk emosi, tidak mampu untuk membuat kita terlalu peduli akan kelanjutannya.

Secara teknis, Kuswandi (Madame X, Selamat Pagi, Malam) memoles filmnya dengan apik, sehingga tampil menarik. Sederhana, tapi bergaya dan didukung oleh visual cantik serta barisan lagu-lagu latar menawan. Beberapa momen romantis hadir menggugah, sementara sempalan komedi sukses memancing gelak. Hanya saja, akibat alur yang sebagian besar terasa kosong, bahkan bertele, film terasa bergerak sangat lama dan melelahkan, walau durasi sebenarnya relatif tidak terlalu panjang juga.

Galih & Ratna  mungkin memang lebih berkualitas dibandingkan sebagian besar film remaja yang beredar pasca AADC? Namun begitu, kalau harus memilih, versi 1979 (dengan segala “keterbatasannya” dan plotnya yang tidak lagi relevan), justru lebih memikat untuk disimak kembali, karena cinta Galih dan Ratna-nya terasa jauh lebih abadi.

0 komentar: